Kamis, 15 September 2011

kejujuran dalam motivasi

Suatu ketika para pemimpin agama ingin mencobai Yesus agar mereka dapat menjerat dan menghukum Dia. Mereka menyuruh beberapa orang Farisi dan Herodian untuk datang kepada Yesus dengan satu pertanyaan yang telah mereka rancang sedemikian rupa akan dapat menjebak Yesus. Pertanyaan itu terdapat dalam Markus 12:14 seperti ini, “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?"
Orang-orang Farisi dan Herodian itu membuka pertanyaaan dengan memuji-muji Yesus terlebih dulu. Mereka memanggil Yesus sebagai Guru, namun mereka tidak pernah benar-benar mengakui Yesus sebagai Guru mereka. Guru pada zaman itu adalah orang yang sangat dihormati di kalangan orang Yahudi, namun perkataan Guru kepada Yesus hanya untuk mengolok-olok Yesus, karena Yesus bukan datang dari kalangan yang berpendidikan. Yesus bukan orang sekolahan. Selain itu apa yang diajarkan Yesus telah menjungkir-balikan semua sistem nilai yang mereka bangun untuk kehormatan para tokoh agama mereka.
Mereka juga mengatakan bahwa mereka tahu Yesus adalah orang jujur, tidak takut siapapun, tidak mencari muka, berani mengatakan kebenaran, namun yang mereka tanyakan adalah membayar pajak kepada Kaisar.
Membayar pajak sebenarnya suatu sistem yang dibangun untuk membiayai keuangan negara. Pemungutan pajak atau cukai pada waktu itu dilakukan oleh para pemungut cukai berdasarkan tawar-menawar. Hal ini yang membuat para tokoh agama sering menghina para pemungut cukai karena mereka bekerja untuk kerajaan Romawi dan juga dianggap orang berdosa karena mendapat keuntungan dari pajak yang mereka tarik.
Para tokoh agama juga tidak senang membayar pajak, karena mereka menganggap membayar pajak sama dengan memberikan perpuluhan seperti yang diajarkan Musa. Perpuluhan dianggap hanya cocok diberikan untuk Tuhan, tetapi tidak untuk Kaisar. Kaisar tidak bisa disamakan dengan Tuhan sehingga membayar pajak kepada Kaisar adalah dosa. Mereka mempertanyakan apa hak Kaisar untuk menarik pajak.
Tetapi Yesus yang mengetahui kemunafikan mereka, menjawab, "Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!" Lalu mereka bawa. Kemudian Yesus bertanya kepada mereka, "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Mereka menjawab, "Gambar dan tulisan Kaisar." Kemudian Yesus berkata kepada mereka, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!"
Apa yang Yesus katakan kepada mereka adalah bertindak jujur di hadapan manusia dan di hadapan Allah. Kejujuran bukan sekedar pertunjukkan film yang berbeda dengan perilaku sehari-hari. Kejujuran menyangkut hati manusia yang jujur dan tulus dan bukan sekedar pertunjukkan untuk menyenangkan para penonton atau pendukung. Kejujuran bukan sekedar untuk citra atau image, tetapi keluar dari hati yang jujur. Bila kita tetap jujur dalam motivasi-motivasi kita, kita akan selalu bertindak sesuai dengan hal itu tanpa peduli dengan pembentukan citra diri kita. Ketulusan dan kejujuran itulah yang dituntut oleh Tuhan dari kita. Kalau kita ingin Tuhan selalu dipihak kita, maka yang kita perlu jaga adalah kejujuran dan ketulusan bukan saja di hadapan manusia tetapi juga di hadapan Tuhan. Seperti dikatakan oleh Daud dalam Mazmur 25:21: “ Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.”

0 komentar:

Posting Komentar